Doa Untuk Anakku

anak_muslim

Engkau adalah matahariku

Yang terang menerangi langkahku

Engkau adalah bunga

Yang mewangi di sekitar mimpiku

Engkau adalah cinta

Yang membuat hidup ini berwarna

Engkau adalah harapan

Yang membuat jiwa ini bermakna

Karena engkau adalah masa depan

Yang akan mengambil tempat dalam sejarah

Tulis sejarahmu dengan tinta emas

Dan jangan pernah menyerah

Karena aku takkan menyerah

Untuk mengucapkan ”Iqra” kepadamu

Tersenyumlah

Karena aku akan selalu memegang tanganmu

Saat kau jatuh dan saat kau sendiri

Jangan pernah padam pelitaku

Sambutlah hidup meski penuh tantangan

Dan tegarlah meski penuh cobaan

Karena Ibumu tak pernah menyerah

Untuk memberi tempat bagimu disini

Dengan penuh cinta dan kehangatan

2 komentar 13 November 2009

Menanamkan Nilai-Nilai Kebaikan Kepada Anak

doa
Berikan qudwah atau contoh yang baik terhadap mereka

Sudah pasti menjadi seorang guru haruslah bisa memberikan qudwah atau contoh yang terbaik terhadap anak-anak didiknya. Mana mungkin siswa yang kita didik menjadi pribadi yang baik jikalau kita saja sebagai seorang guru tidak memberikan contoh dan teladan yang baik terhadap mereka. Banyak hal yang kemudian bisa kita lihat didalam realitas dan kondisi pendidikan kita saat ini , manakala seorang guru hanya mengajarkan hal-hal yang sifatnya teoritis ataupun materi saja tetapi tidak mendorong siswa dari sudut pendidikan yang lainnya seperti tingkah lakunya, motivasinya dll. Seharusnya janganlah kemudian kita menjadi bangga ketika anak didik kita berhasil secara akademik akan tetapi disisi yang lainnya mereka bodoh bahkan terpuruk dari segi moralitas, tingkah laku, cara berfikir dan hal-hal yang lainnya. Hal ini dikarenakan karena ketidak perdulian kita terhadap hal-hal baik yang seharusnya kita contohkan kepada anak-anak didik kita.
Berikanlah reward dan juga pujian

Kita pasti merasa senang dan gembira ketika pimpinan kita memberikan reward. Bisa jadi reward yang diberikan kepada kita bukanlah hal-hal yang besar. Janganlah kita melihat besar atau kecilnya reward ataupun barang yang akan diberikan akan tetapi kita melihat kepada esensi dari pemberian reward itu yaitu untuk memberikan apresiasi terhadap apa yang kemudian dilakukan. Ingat bahwa apa yang kemudian kita berikan tidak harus melulu berupa barang akan tetapi bisa juga dalam bentuk ucapan seperti bagus, well done, Subhanallah dll. Hal inilah yang kemudian akan membuat anak melakukan hal yang serupa terhadap temannya ataupun orang dewasa yang ada disekitarnya karena dia terbiasa melakukan kebaikan dan kemudian diapresiasi dengan hal-hal yang baik sehingga secara otomatis akan timbul kesadaran pribadinya.
Berikanlah siroh / cerita yang bisa memotivasi mereka

Banyak sekali buku-buku crita yang kemudian bisa memotivasi anak untuk melakukan nilai-nilai kebaikan. Seperti cerita tentang bagaimana mendidik anak supaya gemar berinfaq, tidak jajan sembarangan, menghormati orang tua dll. Kita yang sudah dewasa saja masih suka mendengarkan cerita-cerita ataupun guyonan apalagi anak-anak didik kita.
Ingatkalah mereka pada setiap kesempatan sehingga hal ini menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupan mereka

Mendidik bukanlah hanya sekedar mengajarkan saja apa yang kemudian harus dicapai oleh siswa. Akan tetapi bagaimana sebuah teori ataupun muatan pendidikan itu sendiri bisa diaplikasikan oleh si peserta didik dalam keseharian mereka. Karena itu ingatkanlah mereka pada setiap kali kita bersama mereka untuk melakukan nilai-nilai kebaikan itu dalam keseharian mereka. Harapannya adalah kemudian menjadi sesuatu yang secara otomatis akan teraplikasikan dalam kehidupannya tanpa ada paksaan.
Ajak mereka kepada sesuatu yang sifatnya riil dan tidak hanya teoritis

Mengajak mereka dalam kegiatan BAKSOS, menunjukkan bagaimana sikap dan tingkah laku kita ketika berbicara dengan orang yang lebih tua ataupun yang lebih muda, lemah lembut dalam berkata dan hal-hal yang baik lainnya akan semakin membuat anak semakin ingat untuk senantiasa melakukan nilai-nilai kebaikan itu didalam kehidupannya. Janganlah kita hanya berkata-kata saja terhadap mereka akan tetapi juga berikanlah contoh real/aksi nyata terhadap mereka atas apa yang kemudian menjadi landasan teoritis dari apa yang kemudian kita lakukan.

Menanamkan kebiasaan yang baik kepada anak haruslah dengan contoh-contoh real yang kemudian bisa anak-anak lihat secara real dengan mata kepala mereka. Contoh kasus anak-anak yang suka berteriak-teriak disekolah, bisa jadi karena mereka biasa diteriaki dirumahnya oleh orang tuanya, orang-orang yang mengasuhnya ataupun juga teman-teman sepermainannya. Banyak contoh dan kasus yang mungkin saja kita temukan didalam keseharian kita tentang ketidak baikan yang dilakukan oleh anak adalah disebabkan oleh keburukan yang ditunjukkan oleh orang dewasa ataupun teman sepermainan yang ada disekitarnya. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan ketika kita ingin menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik terhadap anak yaitu :

Add a comment 9 November 2009

Hai Anakku … !!!

PE-032-0772Hai anakku, ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, layarilah lautan itu dengan sampan taqwa, isinya ialah iman dan layarnya tawakkal kepada Allah

Hai anakku, orang-orang yang senantiasa menyediakan dirinya untuk menerima nasihat, maka dirinya akan mendapat penjagaan dari Allah. Orang yang sadar setelah menerima nasihat orang lain, dia akan senantiasa menerima kemulian dari Allah juga.

Hai anakku, orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kepada Allah, maka dia itu tawadu’ kepada Allah, dia akan lebih dekat kepada Allah dan selalu berusaha menghindarkan ma’siyat kepada Allah.

Hai anakku, seandainya ibu bapamu marah kepadamu karena kesalahanmu, itu adalah bagaikan pagar bagi tanaman.

Hai anakku, jauhkan dirimu dari berhutang, karena sesungguhnya berhutang itu bisa menjadikan dirimu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.

Hai anakku, selalu berharaplah kepada Allah tentang sesuatu yang bisa menghindarkan sifat durhaka kepada Allah. Takutlah kepada Allah dengan sebenar benar takut (taqwa), tentulah engkau akan terlepas dari sifat berputus asa dari rahmat Allah.

Hai anakku, seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercayai orang dan seorang yang telah rusak akhlaqnya akan senantiasa banyak melamunkan hal hal yang tidak benar. Ketahuilah, memindahkan batu besar gunung itu lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mau mengerti.

Hai anakku, engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih berat lagi bila engkau mempunyai tetangga yang jahat.

Hai anakku, janganlah engkau mengirimkan orang yang bodoh sebagai utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdik, sebaiknya dirimulah saja yang layak menjadi utusan.

Hai anakku, jauhilah bersifat dusta, sebab dusta itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit berdusta itu memberikan akibat yang berbahaya. Orang beriman tak berdusta, anakku.

Hai anakku, bila engkau mempunyai dua pilihan, ta’ziyah orang mati atau hadir di majelis perkawinan, pilihlah untuk menziarahi orang mati, sebab ia akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedangkan menghadiri pesta perkawinan hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi.

Hai anakku, janganlah engkau makan sampai kenyang yang berlebihan, karena sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu lebih layak bagi anjing. Tak diberi ia menggonggong, diberi pun dia menggonggong.

Hai anakku, janganlah engkau langsung menelan saja karena manisnya barang dan janganlah langsung memuntahkan saja pahitnya barang itu, karena manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu belum tentu menimbulkan kesengsaraan.

Hai anakku, makanlah makananmu bersama-sama dengan orang-orang yang taqwa dan musyawarahkanlah urusanmu dengan para ‘ulama dengan cara meminta nasihat dari mereka.

Hai anakku, bukanlah satu kebaikan namanya bila engkau selalu mencari ilmu tetapi tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubahnya orang yang mencari kayu bakar, maka setelah banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih mau menambahkannya.

Hai anakku, bila engkau mencari kawan sejati, maka ujilah terlebih dahulu dengan membuatnya marah. Bila dalam kemarahan itu dia masih berusaha mengingatkanmu, maka baik engkau menjadikan dia teman. Bila tidak, maka berhati-hatilah.

Hai anakku, selalulah baik tutur kata dan halus budi bahasa serta berseri wajahmu, dengannya engkau akan dicintai orang melebihi cintanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang berharga.

Hai anakku, bila engkau berteman, tempatkanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu daripadanya. Namun biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.

Hai anakku, jadikanlah dirimu dalam segala tingkah laku sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharap sanjungan orang lain karena itu adalah sifat riya’ yang akan mendatangkan cela pada dirimu.

Hai anakku, janganlah engkau condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan oleh dunia. Engkau diciptakan Allah bukanlah untuk meraih dunia saja. Sesungguhnya tiada makhluq yang lebih hina daripada orang yang terpedaya dengan dunianya.

Hai anakku, usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata kata yang busuk dan kotor serta kasar, karena engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.

Hai anakku, janganlah engkau mudah tertawa kalau bukan karena sesuatu yang menggelikan, janganlah engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah engkau bertanya sesuatu yang tidak ada gunanya bagimu, janganlah menyia-nyiakan hartamu.

Hai anakku, barangsiapa jadi penyayang tentu akan disayangi, siapa yang pendiam akan selamat daripada berkata yang mengandung racun, dan siapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu akan menyesal.

Hai anakku, bergaullah rapat dengan orang yang ‘alim. Perhatikanlah kata-katanya karena dia itu nasihat bagimu. Dan sesungguhnya sejuklah hati ini mendengarkan nasihatnya, hidupkan hati ini dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya bagaikan tanah yang subur yang selalu disirami air hujan.

Hai anakku, ambillah dunia sekadar keperluanmu saja, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekal akhiratmu. Jangan engkau buang dunia ini ke keranjang sampah karena nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya karena sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka.

Hai anakku, janganlah engkau berteman dengan orang yang bermuka dua, kelak akan membinasakan dirimu.

 

from: yakinku.wordpress.com

Add a comment 3 November 2009

Ibu Rumah Tangga

ibu1Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Superman!”

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…

Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?

Wallahu a’lam

Maroji’:
Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul asli: Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat
Mendidik Anak bersama Nabi oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul Asli: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl
Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427/April 2006

***

from: http://www.muslimah.or.id

Add a comment 27 Oktober 2009

telusur

kategori

File

kalender

Desember 2016
S S R K J S M
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

about me